Rabu, 13 November 2013

proteksi radiasi

Pengertian Proteksi Radiasi Proteksi radiasi atau keselamatan radiasi ini kadang-kadang dikenal juga sebagai proteksi radiologi ini memiliki beberapa pengertian yaitu : § Proteksi radiasi adalah perlindungan masyarakat dan lingkungan dari efek berbahaya dari radiasi pengion , yang meliputi radiasi partikel energi tinggi dan radiasi elektromagnetik § Proteksi radiasi adalah suatu system untuk mengendalikan bahaya radiasi dengan menggunakan peralatan proteksi dan kerekayasaan yang canggih serta mengikuti peraturan proteksi yang sudah dibakukan. § Proteksi radiasi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan atau teknik yang mempelajari masalah kesehatan manusia maupun lingkungan dan berkaitan dengan pemberian perlindungan kepada seseorang atau sekelompok orang ataupun kepada keturunannya terhadap kemungkinan yang merugikan kesehatan akibat paparan radiasi. § Proteksi Radiasi adalah suatu ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan teknik kesehatan lingkungan yaitu tentang proteksi yang perlu diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang terhadap kemungkinan diperolehnya akibat negatif dari radiasi pengion. § Menurut BAPETEN, proteksi radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi pengaruh radiasi yang merusak akibat paparan radiasi. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa proteksi radiasi adalah ilmu yang mempelajari tentang teknik yang digunakan oleh manusia untuk melindungi dirinya, orang disekitarnya maupun keturunannya dari paparan radiasi. Dari segi ilmiah dan teknik, ruang lingkup proteksi radiasi terutama meliputi : 1. Pengukuran fisika berbagai jenis radiasi dan zat radioaktif 2. Menentukan hubungan antara tingkat kerusakan biologi dengan dosis radiasi yang diterima organ/ jaringan 3. Penelaahan transportasi radionuklida di lingkungan, dan 4. Melakukan desain terhadap perlengkapan kerja, proses dan sebagainya untuk mengupayakan keselamatan radiasi baik di tempat kerja maupun lingkungan. B. Macam-macam Proteksi Radiasi Proteksi radiasi dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu : 1. Proteksi radiasi kerja merupakan perlindungan pekerja. 2. Proteksi radiasi medis merupakan perlindungan pasien dan radiografer, dan 3. Proteksi radiasi masyarakat merupakan perlindungan individu, anggota masyarakat, dan penduduk secara keseluruhan. Jenis-jenis eksposur, serta peraturan pemerintah dan batas paparan hukum yang berbeda untuk masing-masing kelompok, sehingga masing-masing harus dipertimbangkan secara terpisah. C. Falsafah Proteksi Radiasi Falsafah proteksi radiasi disebut juga dengan tujuan proteksi radiasi. Tujuan dari proteksi radiasi adalah sebagai berikut : 1. Mencegah terjadinya efek non stokastik yang membahayakan 2. Meminimalkan terjadinya efek stokastik hingga ke tingkat yang cukup rendah yang masih dapat diterima oleh individu dan lingkungan di sekitarnya. Pengalaman telah membuktikan bahwa dengan menggunakan system pembatasan dosis terhadap penyinaran tubuh (baik radiasi eksterna maupun internal) kemungkinan resiko bahaya radiasi dapat diabaikan petugas proteksi radiasi dengan mengikuti peraturan proteksi radiasi dan menggunakan peralatan proteksi yang canggih dapat menyelamatkan pekerja radiasi dan masyarakat pada umumnya. Prosedur yang biasa dipakai untuk mencegah dan mengendalikan bahaya radiasi adalah : a. Meniadakan bahaya radiasi b. Mengisolasi bahaya radiasi dari manusia c. Mengisolasi manusia dari bahaya radiasi Untuk menerapkan tiga prosedur proteksi radiasi di atas dilaksanakan oleh petugas proteksi radiasi. Prosedur utama cukup jelas dengan mentaati dan melaksanakan peraturan proteksi radiasi; kedua dengan merancang tempat kerja dan menggunakan peralatan proteksi radiasi yang baik dan penahan radiasi yang memadai sehingga kondisi kerja dan lingkungannya aman dan selamat; dan ketiga memerlukan pemonitoran dan pengawasan secara terus menerus baik pekerja radiasi maupun lingkungannya dengan menggunakan alat pemonitoran perorangan, pemonitoran lingkungan dan surveimeter. Para penguasa instalasi nuklir sesuai dengan segala keturunan yang berlaku wajib menyusun program proteksi radiasi sejak proses perencanaan, tahap pembangunan instalasi, dan pada tahap operasi. Program proteksi radiasi ini dimaksudkan untuk menekan serendah mungkin kemungkinan terjadinya kecelakaan radiasi. Dalam penyusunan program ini diperlukan adanya prinsip penerapan prinsip keselamatan radiasi dalam pengoperasian suatu ignstalasi nuklir sesuai dengan rekomendasikan oleh Komisi Internasional untuk Perlindungan Radiologi (ICRP). Dalam pemanfaatan teknologi nuklir, faktor keselamatan manusia harus mendapatkan prioritas utama. Program proteksi radiasi bertujuan melindungi para pekerja radiasi serta masyarakat umum dari bahaya radiasi yang ditimbulkan akibat penggunaan zat radioaktif atau sumber radiasi lainnya. Ada tiga hal penting yang perlu mendapatkan perhatian untuk mencegah terjadinya kecelakaan radiasi sehubungan dengan pengoperasian instalasi nuklir, yaitu : 1. Adanya peraturan perundangan dan standar keselamatan dalam bidang keselamatan nuklir; 2. Pembangunan instalasi nuklir dilengkapi dengam sarana peralatan keselamatan kerja dan sarana pendukung lainnya yang sempurna sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya, dengan memperhatikan laporan analisis keselamatan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang; 3.Tersedianya personil dengan bekal pengetahuan memadai dan memahami sepenuhnya tentang keselamatan kerja terhadap radiasi. D. Acuan Dasar Proteksi Radiasi Untuk mencapai tujuan program proteksi radiasi , baik untuk pekerja radiasi maupun anggota masyarakat, diperlukan adanya acuan dasar sehingga setiap kegiatan proteksi harus selalu sesuai dengan acuan dasar tadi. Sesuai dengan rekomendasi ICRP, dalam setiap kegiatan proteksi dikenal adanya standar dalam nilai batas dan tingkat acuan. Nilai batas terdiri atas nilai batas dasar, nilai batas turunan dan nilai batas ditetapkan. Sedang tingkat acuan terdiri atas tingkat pencatatan, tingkat penyelidikan dan tingkat intervensi. Nilai batas dasar untuk tujuan proteksi radiasi tidak dapat diukur secara langsung. Sedang dalam pelaksanaan program proteksi, rancangan program pemantauan radiasi memerlukan metode interpretasi untuk secara langsung dapat menunjukan bahwa hasil pemantauan itu sesuai dengan nilai batas dosis. Untuk mencapai efisiensi dalam proteksi radiasi, dipandang perlu untuk memperkenalkan nilai batas turunan yang menunjukan hubungan langsung antara nilai batas dasar dan hasil pengukuran. Nilai batas turunan adalah besaran terukur yang dapat dihubungkan dengan nilai batas dasar dengan menggunakan suatu model. Dengan demikian hasil pengukuran yang sesuai dengan nilai batas turunan secara otomatis akan sesuai dengan nilai batas dasar. Sedang nilai batas ditetapkan adalah besaran terukur yang ditetapkan oleh pemerintah maupun peraturan lokal pada suatu instalasi. Nilai batas ditetapkan umumnya lebih rendah dari nilai batas turunan, namun ada kemungkinan nilai keduanya adalah sama. Tingkat acuan bukan merupakan nilai batas, tetapi dapat digunakan untuk menentukan suatu tindakan dalam suatu nilai besaran melampaui atau diramalkan dapat melampaui tingkat acuan. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan program pemantauan radiasi perlu menggunakan tingkat acuan. Pelaksanaan program proteksi radiasi memerlukan perencanaan yang hati-hati dalam menentukan tingkat acuan dan tindakan nyata yang perlu diambil jika nilai suatu besaran mencapai nilai acuan. Tingkat acuan ini secara operasional akan sangat membantu penguasa instalasi atom dalam upaya mencapai tujuan proteksi radiasi. Ada tiga tingkat acuan, yaitu : 1. Tingkat Pencatatan, yaitu suatu tingkat yang jika dilampaui maka suatu hasil pengukuran harus dicatat. Nilai dari tingkat pencatatan harus kurang dari 1/10 dari nilai batas dosis ekuivalen tahunan. Hasil pengukuran yang berada di bawah nilai tingkat pencatatan tidak perlu proses lebih lanjut. 2. Tingkat Penyelidikan,yaitu suatu tingkat yang jika dilampaui maka penyebab atau implikasi suatu hasil pengukuran harus diselidiki. Tingkat penyelidikan harus kurang dari 3/10 dari nilai batas dosis ekuivalen tahunan. 3. Tingkat Intervensi,yaitu suatu tingkat yang jika dilampaui maka beberapa tindakan penanggulangan harus diambil. Tingkat intervensi harus ditentukan sehingga tindakan penanggulangan tidak mempengaruhi kondisi operasi normal. E. Asas-asas Proteksi Radiasi Asas-asas dalam proteksi radiasi atau disebut juga prinsip-prinsip proteksi radiasi ini terdiri atas beberapa macam yaitu asas legislasi yang sering disebut asas justifikasi yang artinya pembenaran, asas optimalisasi dan asas limitasi. Penjelasannya adalah sebagai berikut : 1. Asas legislasi atau justifikasi yang artinya pembenaran Penerapan asas justifikasi dalam pemanfaatan tenaga nuklir menuntut agar sebelum tenaga nuklir dimanfaatkan, terlebih dahulu harus dilakukan analisis resiko manfaat. Apabila pemanfaatan tenaga nuklir menghasilkan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan resiko akibat kerugian radiasi yang mungkin ditimbulkannya, maka kegiatan tersebut boleh dilaksanakan. Sebaliknya, apabila manfaatnya lebih kecil dari resiko yang ditimbulkan, maka kegiatan tersebut tidak boleh dilaksanakan. Berikut adalah contoh penerapan asas legislasi atau justifikasi dalam kehidupan sehari-hari yaitu : a. Seorang ibu menderita kelainan jantung tetapi ibu tersebut tidak dapat di roentgen karena ibu tersebut sedang hamil. Karena ditakutkan radiasi tersebut akan tersalurkan ke janinnya. Maka pemotretan akan dilakukan setelah ibu tersebut melahirkan. b.Jika seseorang pasien datang ke ruang pemeriksaan tanpa membawa rekomendasi dari dokter maka sebagai radiografer tidak diharuskan untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien tersebut. c. Seorang radiografer tidak boleh seenaknya menggunakan pesawat roentgen di dalam Rumah Sakit tempat ia bekerja, misalnya dengan mengekspose binatang peliharaannya untuk kepentingan pribadinya. 2. Asas Optimalisasi Penerapan asas ini dalam pemanfaatan tenaga nuklir menuntut agar paparan radiasi yang berasal dari suatu kegiatan harus ditekan serendah mungkin dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Asas ini dikenal dengan sebutan ALARA (As Low As Reasonably Achievable). Dalam kaitannya dengan penyusunan program proteksi radiasi, asas optimalisasi mengandung pengertian bahwa setiap komponen dalam program telah dipertimbangkan secara saksama, termasuk besarnya biaya yang dapat dijangkau. Suatu program proteksi dikatakan memenuhi asas optimalisasi apabila semua komponen dalam program tersebut disusun dan direncanakan sebaik mungkin dengan memperhitungkan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi. Tujuan dari asas optimalisasi dalam proteksi radiasi adalah untuk mendapatkan hasil optimum yang meliputi kombinasi penerimaan dosis yang rendah, baik individu maupun kolektif, minimnya resiko dari pemaparan yang tidak dikehendaki, dan biaya yang murah. Asas optimalisasi sangat ditekankan oleh ICRP. Setiap kegiatan yang memerlukan tindakan proteksi, terlebih dahulu harus dilakukan analisis optimalisasi proteksi. Penekanan ini dimaksudkan untuk meluruskan kesalahpahaman tentang sistem pembatasan dosis yang sebelumnya dikenal dengan konsep ALARA (As Low As Reasonably Achievable). Baik asas optimalisasi maupun ALARA keduanya sangat menekankan pada pertimbangan faktor-faktor ekonomi dan sosial, dan tidak semata-mata menekankan pada rendahnya penerimaan dosis oleh pekerja maupun masyarakat. Berikut adalah contoh penerapan asas optimalisasi dalam kehidupan sehari-hari yaitu : a. Pada saat mengisi kaset radiografer harus memperhatikan kaset yang akan digunakan, ukuran film yang sesuai dan jumlah film yang dimasukkan ke dalam kaset. b. Pada pemeriksaan Thorax untuk bayi sebaiknya menggunakan film 18x24 cm atau 24x30 cm. Hal ini dimaksudkan agar dosis yang diterima pasien dapat diminimalkan dan tidak merugikan pasien dalam hal ekonomi. c. Sebelum dilakukan pemeriksaan radiografer terlebih dahulu harus memberikan instruksi yang jelas kepada pasien agar pengulangan foto dapat dihindari sehingga pasien tidak mendapat dosis radiasi yang sia-sia. 3. Asas Limitasi Penerapan asas ini dalam pemanfaatan tenaga nuklir menuntut agar dosis radiasi yang diterima oleh seseorang dalam menjalankan suatu kegiatan tidak boleh melebihi nilai batas yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Yang dimaksud Nilai Batas Dosis (NBD) ini adalah dosis radiasi yang diterima dari penyinaran eksterna dan interna selama 1 (satu) tahun dan tidak tergantung pada laju dosis. Penetapan NBD ini tidak memperhitungkan penerimaan dosis untuk tujuan medik dan yang berasal dari radiasi alam. NBD yang berlaku saat ini adalah 50 mSv (5000 mrem) pertahun untuk pekerja radiasi dan 5 mSv (500 mrem) per tahun untuk anggota masyarakat. Sehubungan dengan rekomendasi IAEA agar NBD untuk pekerja radiasi diturunkan menjadi 20 mSv (2000 mrem) per tahun untuk jangka waktu 5 tahun (dengan catatan per tahun tidak boleh melebihi 50 mSv) dan untuk anggota masyarakat diturunkan menjadi 1 mSv (100 mrem) per tahun, maka tentunya kita harus berhati-hati dalam mengadopsinya. Dengan menggunakan program proteksi radiasi yang disusun secara baik, maka semua kegiatan yang mengandung resiko paparan radiasi cukup tinggi dapat ditangani sedemikian rupa sehingga nilai batas dosis yang ditetapkan tidak akan terlampaui. Berikut adalah contoh penerapan asas limitasi dalam kehidupan sehari-hari yaitu : a. Pada saat ingin mengekspose pasien yang perlu diperhatikan adalah jumlah radiasi yang akan digunakan. Misalnya seorang pasien dewasa ingin memeriksakan ekstremitas atas (antebrachi), kV yang digunakan sebesar 45. Apabila ada seorang pasien anak-anak juga ingin memeriksakan antebrachinya maka kita sebagai radiografer harus menurunkan kondisi yang tadi digunakan menjadi kV 40 karena dengan kondisi tersebut sudah dapat dihasilkan gambar radiografi yang bagus karena tebal objek sudah dapat ditembus dengan kondisi tersebut. b. Pada pemeriksaan Thorax untuk bayi sebaiknya menggunakan film 18x24 cm atau 24x30 cm. Hal ini dimaksudkan agar dosis yang diterima pasien dapat diminimalkan. Jika radiografer melakukan foto x-ray, untuk mengurangi dosis radiasi yang diterima oleh pasien, kita sebisa mungkin mengatur luas kolimasi sesuai dengan kebutuhan. Sebab semakin besar kolimasi maka semakin besar pula radiasi yang diterima oleh pasien begitupun sebaliknya

teknik pemeriksaan humerus

1. Anatomi Os Humerus Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus, dan ujung bawah. 1) Kaput Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur. 2) Korpus Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis. 3) Ujung Bawah Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce, Evelyn C, 1997) 2. Indikasi pemeriksaan : 1. Dislokasi/luksasi 2. Fraktur , fissure 3. Kelainan patologi 3. Tujuan pemeriksaan humerus : Untuk mengetahui struktur os humerus dengan proyeksi tertentu beserta kelainan yang mungkin ada pada daerah tersebut. 4. Proyeksi AP • PP : berdiri • PO : Lengan bawah dan tangan diatur dalam posisi AP • CR : Horisontal tegak lurus • CP : Pertengahan obyek • FFD : 90cm • Struktur yang terlihat : keseluruhan tulang humerus ( kedua sendi harus tampak ) tampak dalam posisi AP • Kriteria evaluasi : a. Elbow dan shoulder joint masuk dalam lapangan penyinaran b. Humerus dalam posisi true AP : Epicondylus terlihat maksimal dan tidak mengalami rotasi Tuberositas mayor dan minor terlihat jelas Tuberositas minor terletak antara caput humerus dan tuberositas mayor c. Sinar yang divergen menyebabkan elbow joint sebagian tertutup 5. Proyeksi LATERAL • PP : Berdiri • PO : Tangan diletakkan di pinggang, sehingga sendi siku membentuk sudut. • CR : Horisontal • CP : Pertengahan obyek yang diperiksa • FFD : 90cm • Struktur yang terlihat : Tampak gambaran lateral humerus, caput humerus menghadap ke posterior, tampak elbow joint. • Kriteria evaluasi : a. Elbow dan shoulder joint masuk dalam lapangan penyinaran b. Humerus dalam posisi true lateral Epicondylus superposisi Tuberositas minor jelas Tuberositas mayor superposisi 6. PROYEKSI TRANSTHORACIC LATERAL ( Metode Lawrence ) Digunakan apabila lengan atas tidak bisa di abduksi untuk proyeksi lateral • Film : 18 x 24cm / 24 x 30cm + grid • PP : Berdiri atau duduk menyamping • PO : Lengan yang dipriksa menempel kaset. Angkat lengan yang tidak diperiksa diletakkan di atas meja. • CR : Horisontal tegak lurus kaset • CP : Pertengahan obyek yang diperiksa • FFD : 90cm • Exposi pada saat full inspirasi dan tahan napas untuk mempertahankan kontras dan menurunkan faktor eksposi • Struktur yang terlihat : Tampak ½ - 2/3 proksimal humerus dalam proyeksi lateral dan melewati thorax. • Kriteria evaluasi : a. Proksimal humerus tampak b. Humerus dalam posisi lateral c. Batas garis humerus tampak jelas menembus ribs dan lapangan paru d. Humerus dan shoulder yang tidak diperiksa tidak superposisi dengan obyek yang diperiksa e. Humerus tidak superposisi dengan vertebra thoracal 7. PROYEKSI LATERAL DECUBITUS Posisi pasien : Tidur miring (lateral), dengan tepi yang tidak difoto dekat meja pemeriksaan Posisi objek : Os humerus lurus di samping tubuh, articulatio cubiti full fleksio, ossa manus prone didepan articulatio humeri dari tepi yg difoto. Kaset horizontal diletakkan di antara os humerus dan tubuh dengan salah satu tepinya sejauh mungkin masuk ke dalam pangkal os humerus diatur memanjang pada garis tengah film , dengan articulatio cubiti termasuk kedalamnya, ossa antebrachi prone diatas kaset Pengaturan sinar : FFD : 90 cm, CR : tegak lurus bidang film, CP : pertengahan os humerus sumber : Ballinger, Philip W. dan Eugene D. Frank. 2003. Merrill’s Atlas of Radiographic Positions and Radiologic Prosedures, Tenth Edition, Volume Three. Saint Louis : Mosby.

perkembangan ct-scan

Awal perkembangan CT-Scan bermula dari tanggal 11 Agustus 1895, yaitu dengan ditemukannya radiasi sinar-x oleh seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman yang bernama Wilhem Conrad Rontgen (1845-1923) yang langsung dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Nobel pada saat itu. Sinar-x adalah merupakan gelombang electromagnet yang mempunyai panjang gelombang berkisar antara 10 nm – 100 pm. Sinar-x mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : · Memiliki daya tembus yang besar. · Dapat diserap oleh materi (tergantung nomor atomnya). · Memiliki efek fotografi (dapat menghitamkan film). · Dapat menimbulkan efek fluorosensi (memendarkan fosfor). · Dapat dibelokkan / dihamburkan (difraksi sinar-x) · Menimbulkan ionisasi. Sinar-x memungkinkan orang pertama kali untuk melihat struktur dari tubuh manusia bagian dalam tanpa melakukan operasi / pembedahan. Namun sinar-x pada masa ini juga memiliki keterbatasan, yaitu, gambar yang dihasilkan merupakan superimposisi (overlap) dari obyek yang diamati dan juga tidak dapat menggambarkan jaringan lunak. Selain itu ada juga masalah lainnya yaitu, pada teknik radiografi konvensional, jika dua buah obyek yang memiliki besar yang berbeda, dapat tampak sama besar jika hanya dilhat dari satu sudut pandang saja. Dan masalah lainnya, jika dua buah obyek yang berbeda ukuran dan terletak dalam satu garis lurus sinar-x, maka organ yang kecil tidak dapat terlihat, karena tertutup obyek yang lebih besar. Pada tahun 1920, dikembangkan suatu teknik yang berusaha memisahkan gambaran overlapping dari suatu organ yang diperiksa yang dinamakan Tomografi. Teknik yang dikembangkan adalah dengan menggerakkan tabung sinar-x dan film dalam kaset secara bersamaan, dan menggunakan fulcrum sebagai titik focus dari organ yang akan diperiksa. Organ yang ada di bagian atas dan bawah obyek yang diperiksa akan tampak blur (samar) sedangkan objek yang diperiksa akan tampak lebih jelas. Teknik Tomografi ini digunakan pertama kali pada tahun 1935. Namun demikian teknik ini masih mempunyai beberapa kekurangan, yaitu hanya area tertentu saja yang berada pada bidang focus yang dapat terlihat jelas, dan bidang-bidang lainnya yang tidak berada pada bidang focus tidak dapat terlihat dengan jelas. Sedangkan dunia ilmu pengetahuan terus berkembang dengan pesat. Ilmu kedokteran modern membutuhkan gambaran yang mampu menampilkan organ dengan lebih jelas tidak hanya pada organ yang diperiksa, melainkan juga organ lain disekitarnya. Pada tahun 1972, Godfrey N. Hounsfield dan J. Ambrose yang bekerja di Central Research Lab of EMI, Ltd di Inggris menghasilkan Gambar klinis pertama dengan CT-Scan (Computed Tomography Scan). Dan merupakan tanda awal dari dimulainya era baru perkembangan diagnostic imajing. Pada tahun 1974, enam puluh unit CT terpasang. Awalnya pemeriksaan yang dilakukan hanya terbatas pada CT kepala saja. Dan pada tahun 1975 diperkenalkan pertama kali sebuah Whole Body scanner (CT-Scan seluruh tubuh) yang digunakan untuk penunjang klinis . Pada tahun 1979, Hounsfield dan Cormack dianugerahi hadiah nobel. Pada tahun 1989, W.A. Kalender dan P. Vock melakukan pemeriksaan klinis pertama dengan menggunakan Spiral CT. Dan pada tahun 1998 mulailah diperkenalkan alat Multi Slice CT (MSCT) dengan 4 slice. Pada tahun 2000 dikembangkan PET/CT system, kemudian di tahun 2001 telah dikembangkan CT Scan 16 slice. Pada tahun 2004 dikembangkan teknik CT Scan 64 slice dan telah lebih dari 40000 instalasi CT untuk aplikasi klinik. Teknik pencitraan CT sama sekali berbeda dengan teknik pencitraan radiologi biasa (konvensional). Computed Tomography atau CT adalah sebuah proses radiologi untuk menghasilkan gambaran dari potongan melintang (trans-axial) tubuh pasien. Dua buah karakteristik baru yang ada pada gambar yang dihasilkan pada CT adalah peralatan digital yang menghasilkan gambaran digital dan gambar irisan mempresentasikan volume / informasi 3 Dimensi. Namun pencitraan CT Scan juga masih mengalami kendala terhadap organ – organ yang mempunyai densitas hampir sama. Misalnya adalah kasus tumor pada jaringan, dimana gambaran tumor sulit dibedakan dengan jaringan sekitarnya. Demikian juga pencitraan system peredaran darah, system urinaria (saluran kencing), dan masih banyak lagi kasus – kasus pemeriksaan CT Scan yang sulit divisualisasikan secara baik dengan pemeriksaan CT Scan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka mulailah dilakukan penelitian untuk memperoleh hasil pencitraan CT Scan yang dapat membedakan suatu organ yang diperiksa dengan organ lain disekitarnya dengan menambahkan suatu zat yang dianggap mampu memvisualisasikan organ – organ yang mempunyai densitas hampir sama. Zat tersebut dinamakan “Contrast Media” atau Bahan Kontras. REFERENSI : Siemens Medical, Computed Tomography History and Technology,2006 Kartawiguna, Daniel, Teknik Pesawat Pemindai Tomografi Komputer,2010

sejarah pemeriksaan mri

Sejarah MRI Pada tanggal 3 juli 1877, merupakan awal MRI diuji untuk manusia. Membutuhkan waktu 5 jam untuk menghasilkan sebuah gambar, dan jika dibandingkan dengan standar gambar yang sekarang sangatlah buruk. Selama 7tahun Dr. Raymond Damadian, Dr. Larry Minkoff dan Dr. Michael Goldsmith menyelidiki hal ini dan akhirnya menemukannya dengan memberi nama mesin itu adalah “Indomitable” yang mempu mengambil gambar hanya dalam 1 detik dan saat ini mesin ini berada di Institusi Smithsonian. Pengertian MRI Seperti namanya Magnetic Resonance Imaging maka MRI terdiri atas 2 bagian pembahasan yaitu Magnet dan Resonansi. Komponen Sistem yang paling banyak adalah magnet. MRI menggunakan 0,5 tesla sampai 2,0 tesla (5.000-20.000 gauss). Kegunaan MRI Diagnosa Multiple Sclerosis (MS) Diagnosa Tumor Diagnosa infeksi pada otak, tulang belakang, dan persendian Memvisualisasikan ligamen pada pergelangan tangan, kaki, dan pergelangan ka ki Memvisualisasikan sakit pada bahu Diagnosa otot Tendon Mengevaluasi jaringan otot pada tubuh Mengevaluasi tumor pada tulang , kista, dan penyakit hernia Diagnosa Struk Kerugian MRI · Tidak semua orang dapat masuk ke mesin ini. Contoh:karena ukuran tubuh yang besar. · Adanya penyakit claustrophobic yang menyebabkan ketakutan yang berlebihan jika masuk kedalam tabung · Terdapat Noise yang sangat berlebihan selama masa scanning · Diharapkan kepada pasien agar tetap menjaga posisi tubuhnya selama masa scanning · MRI sangat mahal sekali, sehingga untuk melakukan diagnosa membutuhkan biaya yang besar · peralatan yang digunakan juga mengalami interferensi, sehingga mempengaruhi pola image yang dihasilkan Cara Kerja MRI MRI menerapkan getaran RF (Radio Frequency) hidrogen. Getaran tersebut langsung mengenai tubuh pasien. Getaran tersebut menyebabkan proton yang ada pada tubuh pasien diserab yang menghasilkan energi untuk membuatnya berputar (spin) dan precess(pergerakan lambat pada bagian axis) pada arah yang berbeda-beda. Bagian ini disebut dengan “resonance” atau resonansi. Proton yang menyebabkan hal itu terjadi apabila terdapat satu atau dua juta proton yang berbeda. Sehingga menghasilkan frekuensi resonansi yang disebut juga dengan “Larmour Frequency“. Lalu dihitung berdasarkan sebagian jaringan yang telah diambil dan berdasarkan kekuatan medan magnet pada bagian yang akan didiagnosa. Getaran RF biasanya diterapkan menggunakan coil. Coil ini mempunyai berbagai macam jenis sesuai dengan digunakan untuk apa MRI tersebut. Misalnya untuk: kaki, bahu, kepala, persendian, leher dan lainnya. Pada saat yang bersamaan juga magnet bekerja. Magnet pada MRI mempunyai 3 tipe. yaitu: Resistive magnets yang terdiri atas banyak coil yang membungkus silinder dan dilewatkan dengan arus listrik. Hal ini menyebabkan terjadinya medan magnet, jika listrik mati, maka magnet juga tidak aktif. Membutuhkan 50 KW dan menghasilkan 0,3 tesla. Permanent magnet merupakan magnet yang permanen dan ukurannya besar dengan berat yang mencapai ribuan kilogram (7.711kg - 4.400 kg) dan menghasilkan 0.4 tesla. Superconducting magnets Mirip dengan resistive magnet - dimana coil yang dialiri listrik ini diselubungi oleh cairan helium yang sangat dingin yaitu 452.4 derajat dibawah nol. Sehingga tabung MRI sangat dingin, namun hal tersebut dilapisi kembali dengan vacumm flask. Menghasilkan 0.5-tesla sampai 2.0-tesla, dan menghasilkan kualitas image yang sangat baik. Kemudian hasilnya disebut dengan “slice” ataupun potongan-potongan. Besarnya hanya beberapa milimeter saja dan hasilnya sangatlah presisi. Mesin ini akan secara otomatis mengambil gambar perbagian dari tubuh pasien yang akan didiagnosa. Saat getaran RF dimatikan, proton hidrogen menjadi lambat kembali kebentuk awalnya yang menyebabkan terjadinya pelepasan energi, sehingga kemudian proton tersebut ditanggap oleh medan magnetik. Setelah itu mengirimkannya ke coil dan kemudian mengirimkan sinyal tersebut ke komputer. Data yang diperoleh diproses oleh komputer dengan menggunakan transformasi Fourier. Gambar MRI Pada dasarnya gambar yang dihasilkan oleh MRI sama dengan X-ray dan CT Scan karena menggunakan radiasi ionisasi (ionizing radiation). Metode dalam Pengolahan “image” MRI Physically and statistically based deformable models Deformable organisms Deformable spatio-temporal shape models: extending ASM to 2D+Time Modeling prior shape and appearance knowledge in watershed segmentation Intelligent deformable organisms Physics-based shape deformations Insight Toolkit (ITK) where combine Image Processing in MATLAB with deformable organism framework source : http://belajar-mri.blogspot.com Label: MRI

membaca bilangan biner

Adalah ilmu wajib bagi anda para programmer. Tapi tidak ada salah selain programmer mempelajari ini. Karena taukah anda? bahwa, keyboard yang digunakan mengetik setiap karakternya memiliki nilai 0 dan 1 yang tersusun hingga menampilkan sebuah karakter. Caranya? Karena saya akan menunjukkan "cara cepat" jadi jangan terlalu berharap tau seluk beluknya ya seperti "dari mana asalnya? kenapa bisa?". Kalau mau tau lebih dalam, mungkin nanti saya posting "asal mula bilanga biner". langsung saja ya ke pembicaraan kita. Bilangan Biner tersusun 8 digit angka. Kita bisa membacanya dari kanan ke kiri. Kedelapan bilangan ini hanya memiliki dua nilai yakni 0 dan 1. 0 berarti salah dan 1 berarti benar. apa fungsinya 0 dan 1 atau nilai benar dan salah itu? dalam pembacaan bilangan biner tiap angka memiliki nilai berbeda semakin ke kiri maka kelipatan dari kanannya. jadi cara membacanya seperti ini (baca dari kanan) " 128 64 32 16 8 4 2 1 " bila dijabarkan akan menjadi seperti ini : angka ke - 8 memiliki nilai 1 angka ke - 7 memiliki nilai 2
angka ke - 6 memiliki nilai 4 angka ke - 5 memiliki nilai 8 angka ke - 4 memiliki nilai 16 angka ke - 3 memiliki nilai 32 angka ke - 2 memiliki nilai 64 angka ke - 1 memiliki nilai 128 cara membacanya cukup menjumlahkan nilai sesuai urutan yang bernilai 1 (benar). Contoh : 01000001 yang memiliki nilai 1 adalah urutan 1 dan 7. Dengan nilai pada urutan 1 adalah 1 dan pada urutan 7 adalah adalah 64 maka hasil penjumlahan tersebut didapat 65 karena 1 + 64 = 65. Kita coba lagi, 00101010 bernilai berapa? Ya, yang benar bernilai 42 karena 2 + 8 + 32. Nah kini anda telah mampu membaca bilangan biner. Lalu bagaimana menerjemahkannya ke dalam bahasa manusia? Tidak sulit, anda cukup melihat tabel berikut atau kalau sudah mahir bisa dihafal. seperti saya bilang tadi, tidak sulit. Anda hanya perlu mencocokan nilai hasil perhitungan bilangan biner tadi dengan tabel diatas. contoh tadi kita menghitung 01000001 dengan hasil 65 maka ini dibaca A, coba anda lihat urutan 65 pada tabel. Kita juga telah menghitung bersama 00101010 dengan hasil 42 maka ini bisa ita baca * atau asterik. Jadi bagaimana, mudah dan cepat kan? belajar bilangan biner ini hanya perlu anda latih dan dipertajam karena yang kita pelajari tadi hanya membaca sebuah karakter. Pada kenyataannya program berisi ribuan bahkan jutaan karakter. Jadi terus semangat! semoga bermanfaat. source : http://adityadmin.blogspot.com Label: Komputer Radiologi

pemeriksaan oesanografi (barium swalow)

1. Anatomi Oesophagus terletak di belakang trakea, terbentang dari laringopharynx s/d lambung. Panjangnya 10 inch, diameter ¾ inc. 2. Definisi Teknik Pemeriksaan Radiografi khusus untuk melihat oesophagus dan pharynx dengan menggunakan media kontras positif. 3. Tujuan Mengetahui kelainan fungsi dan anatomi pada oesophagus dan pharynx. 4. Indikasi Achalasia ( penurunan pergerakan peristaltic 2/3 distal oesophagus) Anatomic Anomalies Foreign Bodies ( bolus of food , metallic object, fish bone) Carcinoma Dysphagia Esophagitis Refluks Spasme oesophagus. 5. Kontraindikasi Jarang ditemukan karena menggunakan BaSO4 Adanya komplikasi perforasi pada oesophagus yang tidak diketahui sebelumnya 6. Persiapan Pasien Tidak ada persiapan khusus, kecuali dilanjutkan untuk pemeriksaan Maag dan Duodenum Berikan penjelasan pada pasien 7. Persiapan Alat & Bahan Pesawat X-Ray + Fluoroscopy Baju Pasien Gonad Shield Kaset + film ukuran 30 x 40 cm Grid X-Ray marker Tissue / Kertas pembersih Bahan kontras Air Masak Sendok / Straw ( pipet ) 8. Teknik Pemeriksaan Proyeksi AP/PA,Lateral, RAO dan LAO (yang paling sering digunakan proyeksi AP,Lateral dan RAO ) Proyeksi AP/PA Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus Faktor teknik : Film 30 x 40 cm memanjang Moving / Stationary Grid Shielding : region pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1 Posisi Pasien : Recumbent / erect Posisi Object : MSP pada pertengahan meja / kaset Shoulder dan hip tidak ada rotasi Tangan kanan memegang gelas barium Tepi atas film 5 cm di atas shoulder CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada MSP, 2,5 cm inferior angulus sternum (T5-6 ) / 7,5 cm inferior jugular notch FFD : 100 cm Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium Catatan : Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan straw langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan. Kriteria radiograf : Struktur : Oesophagus terisi barium Posisi : Tidak ada rotasi dari pasien (Sternoclavicular joint simetris ) Kolimasi : Seluruh Oesophagus masuk pada lap.penyinaran Faktor eksposi : Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus superimposed dengan th-vertebrae Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi. Proyeksi Lateral Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus Faktor teknik : Film 30 x 40 cm memanjang Moving / Stationary Grid Shielding : region pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1 Posisi Pasien : Recumbent / erect ( recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik ) Posisi Objek : Atur kedua tangan pasien di depan kepala saling superposisi, elbow flexi Mid coronal plane pada garis tengah meja / kaset. Shoulder dan hip diatur true lateral, lutut flexi untuk fiksasi. Tangan kanan memegang gelas barium Tepi atas kaset 5 cm di atas shoulder CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada pertengahan kaset setinggi T 5-6 / 7,5 cm inferior jugular notch FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri ) Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium Catatan : Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan straw langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan. Kriteria radiograf : Struktur : Oesophagus terisi bariumterlihat diantara C.Vertebral dan jantung Posisi : True lateral ditunjukan dari superposisi kosta Posterior. Bahu pasien tidak superposisi dengan oesophagus Oesophagus terisi media kontras. Kolimasi : Seluruh Oesophagus masuk pada lap.penyinaran Faktor eksposi : Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus secara jelas yang terisi dengan kontras. Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi. Proyeksi RAO (Right Anterior Oblique) Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus Faktor teknik : Film 30 x 40 cm memanjang Moving / Stationary Grid Shielding : region pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1 Posisi Pasien : Recumbent / erect ( recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik) Posisi Objek : Rotasi 35 – 40 derajat dari posisi prone dengan sisi kanan depan tubuh menempel meja / film. Tangan kanan di belakang tubuh, tangan kiri flexi di depan kepala pasien, memegang gelas barium, dengan straw pada mulut pasien. Lutut kiri flexi untuk tumpuan. Pertengahan thorax diatur pada posisi obliq pd pertengahan IR / meja Tepi atas kaset 5 cm di atas shoulder CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada pertengahan kaset setinggi T 5-6 / 7,5 cm inferior jugular notch FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri ) Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium Catatan : Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan sedotan langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan. Kriteria radiograf : Struktur : Oesophagus terisi bariumterlihat diantara C.Vertebral dan jantung ( RAO menunjukan gambaran lebih jelas antara vertebrae dan jantung dibandingkan LAO ) Posisi : Rotasi yang cukup akan menampakkan oesophagus diantara C. Vert. & Jantung, jika oesophagus superimposed diatas spina, rotasi perlu ditambah. Bahu pasien tidak superposisi dengan oesophagus Oesophagus terisi media kontras. Kolimasi : Seluruh Oesophagus masuk pada lap.penyinaran Faktor eksposi : Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus secara jelas yang terisi dengan kontras. Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi. Proyeksi LAO (Left Anterior Oblique) Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus Faktor teknik : Film 30 x 40 cm memanjang Moving / Stationary Grid Shielding : region pelvic Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1 Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1 PP : Recumbent / erect ( recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik ) Posisi Objek : Rotasi 35 – 40 derajat dari posisi PA dengan sisi kiri depan tubuh menempel meja / film Tangan kiri di belakang tubuh, tangan kanan flexi di depan kepala pasien, memegang gelas barium, dengan straw pada mulut pasien. Lutut kanan flexi untuk tumpuan. Pertengahan thorax diatur pada posisi obliq pd pertengahan IR / meja Tepi atas kaset 5 cm di atas shoulder CR : Tegak lurus terhadap kaset CP : pada pertengahan kaset setinggi T5-6 / 7,5 cm inferior jugular notch FFD : 100 cm ( 180 cm bila pasien berdiri ) Kollimasi : atur luas lapangan penyinaran selebar 12-15 cm Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium Catatan : Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan sedotan langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan. Kriteria radiograf : Struktur : Oesophagus terisi barium terlihat diantara sekitar hilus paru dan C.Vertebral Posisi : Bahu pasien tidak superposisi dengan oesophagus, esophagus terisi media kontras. Kolimasi : Seluruh Oesophagus masuk pada lap.penyinaran Faktor eksposi : Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus secara jelas yang terisi dengan kontras, menembus bayangan jantung. Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.

pengenalan radiofotografi

Radiofotografi adalah proses pencatatan bayangan pada film radiografi dengan menggunakan sinar-x Sifat sinar-x: Daya tembus besar Dapat mengionisasi suatu zat. Efek fluorosensi Biological effects (menimbulkan kerusakan sel tubuh) Photographic effect (menghitamkan plat film) Pembentukan sinar-x Sinar-x diproduksi pada tabung hampa udara yang didalamnya terdapat katoda (bertindak sebagai filamen atau sumber elektron) dan anoda (bertindak sebagai target/sasaran) Katoda dipanaskan ( > 20.000 Âșc )sampai menyala dgn mengalirkan listrik yg berasal dari transformator. Karena panas, elektron-elektron dari katoda terlepas. Waktu dihubungkan dengan transformator tegangan tinggi, elektron-elektron dipercepat gerakannya menuju anoda dan dipusatkan ke alat pemusat. Awan-awan elektron mendadak dihentikan pada sasaran sehingga terbentuk panas (99 %) dan sinar X (1 %) Pelindung ( perisai ) timah akan mencegah keluarnya Sinar–X dr tabung, sehingga sinar X yang terbentuk hanya dpt keluar melalui jendela. Panas yang tinggi pada sasaran akibat benturan electron ditiadakan dengan radiator pendingin. Hal yang harus diperhatikan sebelum exposi: Posisi pasien Pastikan pasien telah diatur dan tidak mengalami pergerakan. Pemilihan faktor exposi a) KVP kV menyatakan : kualitas radiasi, daya tembus sinar dan tegangan tabung. kV harus disesuaikan dengan ketebalan dan kerapatan objek tersebut. kV yang terlalu tinggi dari kondisi standar akan menyebabkan: - Kontras menurun - Densitas meningkat - Radiasi hambur meningkat. Semakin tinggi kV, maka daya tembus sinar-x sangat besar dan membuat gambaran overexpose. Begitu juga ketika pemilihan kV terlalu kecil, akan membuat gambaran underexpose. b) Pemilihan mA (milli Amphere) mA menyatakan : kuantitas radiasi, terang redupnya gambar, dan besaran arus tabung. Peningkatan mA akan membuat kuantitas radiasi meningkat dan membuat ketajaman (sharpness) pada film radiograf. c) Waktu pemaparan Pemilihan waktu pemaparan hendaknya menggunakan waktu tersingkat dengan memodifikasi faktor exposi untuk menghindari movement (pergerakan pasien). 1. Focus-Film Distance (FFD) Apabila FFD berubah dari FFD pemeriksaan standar, faktor exposi juga harus diubah 2. Object-Film Distance (OFD) Object yang akan diperiksa diharapkan benar-benar menempel pada film (OFD = 0), terutama pada pemeriksaan thorax untuk menghindari terjadinya magnifikasi. Pengecualian untuk object yang sengaja dibesarkan seperti sella tursica. 3. Tipe film yang digunakan Pastikan sesuai dengan pemeriksaan yang dilakukan. Penggunaan grid Grid digunakan pada objek yang tebal atau penggunaan kV yang tinggi. Fungsi grid adalah menyerap radiasi hambur (radiasi primer yang terpecah selama menembus objek). Radiasi hambur itu membuat kontras menurun. Grid ditempatkan diantara film dan objek yang diperiksa. 2 tipe grid : grid yang diam dan grid yang bergerak saat exposi (Bucky) Processing Film Proses pembentukan bayangan laten menjadi bayangan nyata. Tahapan-tahapan nya antara lain: Development – Rinsing – Fixer- Rinsing – Drying. 1. Development yaitu proses kimia yang memperkuat gambar laten. Hanya kristal yang mengandung bayangan laten (kristal yang terekspose) yang akan dikembangkan (develop) oleh developer. 2. Fixing yaitu menetapkan bayangan yang sudah dibangkitkan oleh developer. 3. Rinsing yaitu menghilangkan sisa-sisa emulsi dan bahan kimia sisa dari developer dan fixer. 4. Drying yaitu pengeringan dari sisa air source : http://firzandinata.wordpress.com/2011/07/07/pengenalan-radiofotografi/ Label: Radiofotografi